Ucapan Seharga Kacang Kulit

Rasanya ampas kopi rasanya lebih sedap daripada perkataan orang zaman ini

“Tadi dikelas dapet nilai 10 masa kerjain PR gini aja nggak bisa?! kamu tadi nyontek dari siapa?!” omel ibuku. “Nggak kok, aku ngerjainnya sendiri” jawabku. “Bohong, kalo kamu tadi ngerjain sendiri harusnya kamu udah bisa ngerjain PR sekarang. Jujur, kamu nyontek siapa tadi?” timpal ibuku. Sejenak ku diam. Kemudian perlahan ku tulis nama kawan kelasku yang ku contek tugasnya saat dikelas pagi tadi karena tak berani aku menjawab dengan lisan. Setelah itu barulah cermah panjang lagi dari ibuku tiap aku tak pernah pandai belajar ilmu matematika dari sekolah.

Ah, rasanya amat pandir aku jikalau berbohong didepan orang tuaku terlebih ibuku. Entah ilmu apa yang dipunya ibuku setiap aku menyembunyikan sesuatu. Begitulah sejak kecil aku tak pernah berani berkata dusta dihadapan orang tua (tapi pernah mencoba berbohong di hadapan Tuhan, astaghfirullah). Dulu setiap malam aku tak pernah boleh keluar rumah kecuali jika membeli sesuatu, karena malam adalah waktu belajar. Kemudian suatu ketika kawanku mengajakku bermain keluar dan membujukku untuk berbohong izin ke orang tua. Walaupun sudah dibujuk seribu kalimat tetap saja aku tak bisa menerimanya.

Itulah waktu dulu masa ketika aku selalu bertanya dengan ibuku mengapa banyak yang masih berani berbohong.  Kawan-kawanku juga terkadang mereka senang berbohong. Aku berpikir apa meraka tak resah ketika berbohong. Ah, polosnya aku ini. Terkadang kepolosan juga mengandung kebohongan rupanya.

Dulu sewaktu masa SD ungkapan sumpah demi Tuhan adalah bukti konkrit jikalau kawan-kawanku berkata jujur. Bahkan ungkapan itu begitu mudah diungkapkan bilamana mereka sudah mulai merasa tidak dipercayai. Bahkan zaman kecilku.

Bahkan zaman kecilku kebenaran sulit dicari. Hingga ribuan sumpah kita ucapkan demi kepercayaan seseorang yang sedang kita hadapi. Ironisnya di televisi-televisi saat itu orang-orang dewasa sudah mulai membohongi dan mengajarkan ke masa kecil kami tentang kebohongan. Ah, walaupun begitu aku tetap rindu masa dimana tidak mengerjakan pekerjaan rumah akan di-strap atau dijewer.

Bahkan sekarang harga “kebenaran” itu semakin mahal. Tiap kebenaran itu harus dibayar dengan dalil-dalil manakala menyamapaikan sesuatu. Sekiranya siapapun akan percaya dengan fakta dari dalil-dalil itu. Dalil yang paling absolut adalah dalil yang berlandaskan dari ucapan Tuhan atau Nabi dari kitab suci dan hadist. Namun atas dasar dalil-dalil itu orang meyampaikan sesuatu yang berlainan dan hanya mencocokkan sekedarnya atau sedikitnya padahal beritanya tak betul. Justru sekarang yang semakin murah adalah dalilnya yang sering digunakan hanya karena agar mudah dipercaya.

Kemudian segala opini ini bukanlah kebenaran seutuhnya karena keabsolutan hanya milik Yang Maha Benar. Sekian

 

Advertisements

Cepat-cepatlah jadi sarjana!

Sempat kepikiran soal angka-angka, peringkat-peringkat, derajat-derajat yang dipredikatkan ke tiap-tiap manusia akan hasil usahanya. Dari mulai saya masih jadi murid TK sampai jadi mahasiswa di kampus sampai sekarang ini bolehlah dikatakan nilai yang  fluktuatif (sebenanya sih menurun). Entah faktor apa, tapi cukup menggambarkan sedikit kesimpulan bahwasanya angka-angka peringkat berurutan itu ditanamkan berdasarkan patokan-patokan tertentu (memang begitu).

Masih menjadi sebuah dogma bahwasanya angka kecil mendiskripsikan stigma kegagalan seorang individu. Padahal munculnya sebuah nilai berdasar pada pokok-pokok kriteria tertentu. Dan ada hal lainnya yang belum bisa ditampakkan dengan nilai-nilai, namun cukup mempengaruhi untuk memprediksi seseorang.

Memang gak ada yang salah soal kriteria-kriteria tertentu itu karena memang pada dasarnya nilai itu mesti dicapai dari materi-materi. Tetapi ternyata angka-angka ini cukup punya power untuk memberi sebuah status sosial pada tiap-tiap orang. Hingga lahirlah predikat mahir dan bodoh.

Cukuplah anak-anak sekolahan yang saling melempar status si “pintar” dan “si bodoh” itu. Jika beranjak dewasa nanti biarlah mereka memberikannya kepada orang-orang yang berperilaku. Dimana perilaku sampai saat ini masih belum memiliki predikat-predikat angka yang dapat menilai moral individu. Dan moral lebih pantas diberi peringkat sebagai hukuman manusia yang terlalu berani mencintai dunia. Serta predikat “sarjana” cukup dapat memberangus mereka yang lupa cara bermimpi saat muda!

Narasi tanpa emosi

Tempo hari pemuda itu lesu sekali. Kemudian hari ini ia begitu berubah. Ada apa gerangan? Tak seperti biasa yang selalu bersemangat memikirkan lika-liku ketimpangan sistem yang ada dilingkungannya. Buku-bukunya pun tampak bertaburan debu di rak yang disusunnya. Amat rapih, namun begitu usang. Bahkan kamar tidurnya tak lagi menjadi sepi. Ahh.. padahal kamar ini digunakan hanya untuk tidur saja. Anggapannya dunia luar adalah dunia yang harus ditantang dan dihadapi.

Ada apa ini? walaupun menjadi seorang penikmat alunan lagu kesunyian, tetapi tak pernah menunjukkan raganya yang begitu sepi seperti ini. Apa terlalu menghayati musik sunyi itu kah? Sungguh naif. Bukan kepalang runtuhnya pemuda ini. Bahkan peduli pun tak lagi dimilikinya.

Ribuan korban keputusasaan beraduk menjadi satu diluar sana. Ada yang masih mengenal Tuhannya bahkan sudah ada yang lupa. Mungkin yang melupakan Tuhannya sudah tidak mempercayai Tuhannya lagi. Ahh bodohnya yang seperti itu, bahkan harga imannya hanya setara dengan keputusasaannya. Tetapi si pemuda ini hanya tak memiliki kepercayaan lagi akan siapapun. Hanya tidak percaya kepada makhluk Tuhan. Apakah si pemuda ini telah membaur dengan salah satu korban keputusasaan ini?

Entahlah, semuanya hanya sebatas retorika belaka akan kisah si pemuda ini. Mungkin ingin sekedar untuk rehat. Rehat dari hiruk pikuk keramaian perkumpulan. Rehat dari pikiran-pikiran. Rehat dari memakai topeng-topeng palsu.

Jangan lupa masuk kuliah!

“Padahal sarjana pertanian, kok cuman jadi petani?”

Lho kenapa? ilmu pertanian kan memang ilmu yang digunakan dalam bercocok tanam atau bertani. Salahkah dipraktekkan oleh yang lebih berpengetahuan? Ya selama prinsip orang-orang berpengalaman itu lebih penting ketimbang berpengetahuan, anggapan itu bakal tetep ada. Padahal udah pada tau kalau pengalaman itu punya awal dari tidak berpengalaman.

Yaah nggak heran aja waktu jadi mahasiswa idealis setelah kerja jadi borjuis. Apa kuliah hanya untuk cari kerja yang lebih mapan? Padahal jamannya jadi mahasiswa tugasnya agent of change, iron stock, atau apalah yang melambangkan mahasiswa adalah otaknya rakyat. Walaupun ada jalannya sendiri-sendiri nantinya, tetap aja profesi bukan jadi alasan seorang menjadi gagal. Bisa aja jadi petani karena memang tujuannya memproduksi tanah sawah keluarganya. Atau jadi nelayan untuk kelak jadi pemimpin daripada kumpulan nelayan didaerahnya. Karena memang pemimpin adalah yang mencontohkan. Orang kayak gini yang konsisten dengan pengabdian masyarakatnya.

Begitulah karena memang pekerjaan di kantor ber-AC lebih nyaman ketimbang dilapangan yang terik. Akan ada banyak orang-orang yang mengurus administrasi ketimbang yang mengurus lahan. Kalau memang mau membedakan strata yang lebih berpengetahuan dengan yang belum, bukan dari tempat dimana dia bekerja, tetapi bagaimana dia bekerja. Bagaimana kalau dibilang blusukan? Lha wong kerjanya kan terus-menerus bukan sekali dua kali.

Kalau berkuliah hanya untuk mencari kerjaan elegan ya beginilah keadaannya sekarang. Keadaan berpikir dan bertindak mahasiswa sekarang. Istilah yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin nggak akan pernah hilang.

Huh, sulit juga mengungkapkan individualisme.

Lhoh saya kan juga mahasiswa masa kini?

Ah, orang-orang kan paling pintar berkomentar dan menilai.
Hehehe..

Belenggu.

wpid-wp-1459094426483
 source pic : cahayatemaram.com

Kepalan peluh bergumul keluh mengasuh
jangan merusuh angkuh, juga tak usah memikul pilu
melepas purik yang mengusik tak menarik
kawani nurani bersepi, perangi distorsi tak berinterpretasi
gelakmu dukaku tumbuh bergawai cerai dan berai
ceritamu deritaku menusuk usai tak tercapai
membungkuk pada emosi, regulasi, dan emansipasi
mengutuk evolusi jadi ereksi,  mengubah stigma jadi dogma
cengeng katanya merupakan akar hierarki edukasi asasi
pedang mencungkil jiwa kriminil, dikata tak bernurani
biar Yang Esa tetaplah yang esa
mengubur yang mengkokohkan karya menjadi dewa
meja hijau yang haqiqi masih dihadapan singgasana-Nya
lebih menghujam, menikam, menghantam
tak ada makna ambigu dalam berita acara-Nya
tak ada manifestasi birokrasi pada mahkamah-Nya
tak ada hipokrit dengan hakim-Nya
biar masih banyak pikiran kolot di zaman melorot
lantas, apa yang lebih apatis dari sejuta angan yang ngotot?
sedang makhluk-makhluk ini tetap berada di dunia yang masih punya rasio